MEMBACA TANDA-TANDA ALAM
Jumat, 31 Juli 2020
Tulis Komentar
Pemanasan global karena efek rumah kaca membawa dampak pada perubahan iklim dan juga cuaca. Banyak orang mengatakan bahwa cuaca dewasa kini sulit diprediksi; yang seharusnya panas, koq malah hujan. Hal ini setidaknya yang kami alami. Bagi generasi 70-an, tentu masih ingat akan perkataan bapak dan ibu guru waktu di sekolah terkait dengan pelajaran IPA. Soal musim hujan dan kemarau sudah ada patokannya. Umumnya selama bulan September hingga Desember adalah puncak musim hujan. Satu ciri utamanya adalah suku kata terakhir dari tiap bulan tersebut, yaitu ber, yang diasosiasikan dengan ember (bandingkan 2 suku kata terakhir 3 bulan tersebut kecuali Oktober). Hal ini hendak memberitahukan bahwa dalam bulan-bulan itu masyarakat harus menyiapkan ember untuk menampung air hujan. Sementara bulan-bulan lain dianggap sebagai musim kemarau.
Akan tetapi, sudah beberapa tahun terakhir ini pembagian musim tersebut seakan sudah berubah. Untuk itulah, diperlukan pengamatan untuk membaca tanda-tanda alam ini. Di tahun 2020 ini musim hujan malah dimulai pada pertengahan bulan April dengan intensitas ringan. Dalam bulan Mei intensitas hujan mulai sedang, dan dalam bulan Juni berubah menjadi lebat. Hampir setiap hari dalam bulan Juni, hujan dengan intensitas lebat. Memasuki bulan Juli intensitas hujan kembali menjadi ringan. Hujan memang tidak setiap hari, tapi dalam seminggu pasti ada hujan cukup lebat.
Berikut ini gambaran singkat hujan di 4 bulan (April – Juli)
| Bulan | Intensitas Hujan | Keterangan |
| 1 – 15 April | Tidak ada hujan | Kemarau |
| 15 – 30 April | Hujan ringan | Tak setiap hari |
| Mei | Hujan sedang | Seminggu sekali hujan turun |
| Juni | Hujan lebat | Hampir setiap hari hujan lebat |
| Juli | Hujan sedang | Seminggu sekali hujan turun |
Dabo Singkep, 30 Juli 2020
by: adrian

Belum ada Komentar untuk "MEMBACA TANDA-TANDA ALAM"
Posting Komentar